Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi)

Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi)

Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi) – Halo sobat, dalam artikel kali ini akan disajikan informasi tentang mengenai jawaban menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi) halaman 219 yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Sebelum masuk dalam pembahasan soal, bacalah terlebih dahulu rangkuman buku  Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!. Setelah itu kerjakan soal terkait rangkuman tersebut.

Pembahasan soal kali ini bertujuan untuk membantu sobat dalam belajar. Untuk itu langsung saja kita simak bersama ulasan berikut ini.

Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi) Halaman 219

Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Buku Pengayaan dan Buku Drama

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:

(1) menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi),

(2) menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam satu buku drama (fiksi).

Baca Juga : Cara Mengubah Power Mode di Windows 11

Buku pengayaan adalah buku penunjang buku utama (buku teks) yang digunakan oleh siswa. Penulisan naskah buku pengayaan ini tidak mengacu kepada kurikulum dan tidak ada aturan yang mengikat karena buku pengayaan ini salah satu buku pelengkap perpustakaan.

Buku pengayaan sangat penting untuk menambah wawasan kamu selain pengetahuan yang didapatkan dari buku teks. Buku pengayaan bisa dijadikan sebagai buku bacaan umum, komik, cerita, atau gurauan karakter. Buku pengayaan yang baik adalah buku pengayaan yang betul-betul menunjang buku teks yang digunakan di sekolah. Kamu dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan memperluas wawasannya dengan sering membaca buku-buku pengayaan yang bermutu dan update sesuai dengan keadaan sekarang. Salah

satu contoh adalah buku pengayaan yang di dalamnya berisi motivator atau biografi orang-orang sukses. Buku pengayaan seperti itu akan merangsang pemikiran dan pola pikirmu, sehingga mempunyai tekad untuk maju yang diawali belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Buku pengayaan ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu buku pengayaan untuk pengetahuan, keterampilan dan kepribadian. Ketiga jenis ini dibuat oleh penulis dengan sebuah teknik penyampaian materi yang menarik dan inovatif.

Kegiatan 1

Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi)

Agar lebih memahami seperti apa buku pengayaan, kamu diajak membaca rangkuman buku di bawah ini.

Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

Pengusaha sukses yang satu ini menjalani jalan hidup yang panjang dan berliku sebelum meraih sukses. Dia sempat menjadi sopir taksi hingga kuli bangunan yang hanya berpenghasilan Rp100,00. Gayanya yang sederhana dan terkesan nyentrik menjadi ciri khasnya tersendiri. Bercelana pendek jin, kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Siapa sangka, pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp100,00.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Uji Kompetensi halaman 106 107 108 109 110 dan 111 Bab 4 Informatika SMP/MTs Kelas 7 Kurikulum Merdeka

Baca Juga : Cara mengubah Pengaturan Mode Sleep di Windows 11

Celana pendek memang dikenal menjadi ”pakaian dinas” Om Bob begitu dia biasa disapa dalam setiap aktivitasnya. Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933, yang mempunyai nama asli Bambang Mustari Sadino, hampir tidak pernah melewatkan penampilan ini, baik ketika santai, mengisi seminar entrepreneur, maupun bertemu pejabat pemerintah seperti presiden. Aneh, tetapi itulah Bob Sadino.

Keanehan juga terlihat dari perjalanan hidupnya. Kemapanan yang diterimanya pernah dianggap sebagai hal yang membosankan dan harus ditinggalkan. Anak bungsu dari keluarga berkecukupan ini mungkin tidak akan menjadi seorang pengusaha yang menjadi inspirasi semua orang seperti sekarang, jika dulu ia tidak memilih untuk menjadi orang miskin.

Ketika orang tuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena semua saudara kandungnya kala itu sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan Sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam, Belanda, juga di Hamburg, Jerman. Di Eropa ini dia bertemu Soelami Soejoed yang kemudian menjadi istrinya.

Sebelumnya dia sempat bekerja di Unilever Indonesia. Namun, hidup dengan tanpa tantangan baginya merupakan hal yang membosankan. Ketika semua sudah pasti didapat dan sumbernya pun ada, ini menjadikannya tidak lagi menarik. ”Dengan besaran gaji waktu itu kerja di Eropa, ya enaklah kerja di sana. Siang kerja, malamnya pesta dan dansa. Begitu-begitu saja, terus menikmati hidup,” tulis Bob Sadino dalam bukunya Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila.

Baca Juga : Daftar Shortcut Windows 11 Yang Perlu Kamu Tahu

Pada 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Kala itu dia membawa serta dua mobil Mercedes miliknya. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Satu mobil Mercedes yang tersisa dijadikan ”senjata” pertama oleh Bob yang memilih menjalani profesi sebagai sopir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.

Baca Juga :  Soal PTS / UTS IPS Kelas 7 Semester 2 Kurikulum 2013

Tak lama setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya sebesar Rp100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Oleh karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras. ”Kalau kamu masih merokok malam ini, besok kita tidak bisa membeli beras,” ucap istrinya memperingati.

Keadaan tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Mereka prihatin. Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menawarkan berbagai bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut.

Namun, Bob menolaknya. Bob pun sempat depresi, tetapi bukan berarti harus menyerah. Baginya, kondisi tersebut adalah tantangan yang harus dihadapi. Menyerah berarti sebuah kegagalan. ”Mungkin waktu itu saya anggap tantangan. Ternyata ketika saya tidak punya uang dan saya punya keluarga, saya bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin. Itu tantangan, powerfull. Seperti magma yang sedang bergejolak di dalam gunung berapi,” papar Bob.Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram.

Baca Juga : Cara Membuat Tanda Tangan di Office dengan Mudah

Akhirnya, dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang.

Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Kini Bob mempunyai PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging). Bob juga kini memiliki usaha agrobisnis dengan system hidroponik di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan ekspatriat rupanya menjadi salah satu kunci sukses. Ekspatriat merupakan salah satu konsumen inti dari supermarket miliknya, Kem Chick. Daerah Kemang pun kini identic dengan Bob Sadino.

”Kalau saja saya terima bantuan kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mungkin saja Kem Chick tidak akan pernah ada,” ujarnya.

Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup. Menjadi seorang entrepreneur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Keunikan Papua Burung Cenderawasih

Karena itu, menurutnya, menjadi sarjana saja tidak cukup untuk melakukan berbagai hal karena dunia akademik tanpa praktik hanya membuat orang menjadi sekadar tahu dan belum beranjak pada taraf bisa. ”Kita punya ratusan ribu sarjana yang menghidupi dirinya sendiri saja tidak mampu, apalagi menghidupi orang lain,” jelas Bob.

Baca Juga : Aplikasi Editor Audio Android Terbaik, Kamu Bisa Ngonten Dimanapun!

Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli. ”Tahu” merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal, tetapi tidak menjamin mereka bisa. ”Bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. ”Terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara itu, ”ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat ”ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Setelah membaca teks di atas, kamu diminta menyampaikan tanggapannya antara lain dengan beberapa pertanyaan berikut.

  1. Apakah kamu berkeinginan untuk menjadi enterpreneur seperti Bob Sadino?
  2. Apa yang membuat Bob Sadino sanggup bangkit kembali setelah terpuruk dalam kemiskinan?
  3. Apa rumus keberhasilan yang dibuat oleh Bob Sadino?

Jawaban    :

  1. Ya, saya ingin menjadi enterpreneur seperti Bob Sadino.
  2. Karena bagi Bob Sadino menyerah berarti sebuah kegagalan. Ketika Bob Sadino tidak punya uang dan punya keluarga, hal tersebut justru membuat ia bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin.
  3. Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli. ”Tahu” merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal, tetapi tidak menjamin mereka bisa. ”Bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. ”Terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara itu, ”ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat ”ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Kesimpulan

Baca Juga : Jawaban Menganalisis Kebahasaan Kritik Sastra dan Esai

nah sobat, demikianlah pembahasan mengenai jawaban menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi) halaman 219 yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018. Semoga artikel ini bermanfaat!

Disclaimer : Pembahasan soal di atas merupakan panduan untuk belajar, jawaban tidak mutlak dan bersifat terbuka sehingga masih dapat dikembangkan.