jawaban tugas menganalisis kebahasaan karya ilmiah

Jawaban Tugas Menganalisis Kebahasaan Karya Ilmiah yang Dibaca

Jawaban Tugas Menganalisis Kebahasaan Karya Ilmiah yang Dibaca – Halo sobat, dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai Jawaban Tugas menganalisis kebahasaan karya ilmiah yang Dibaca Halaman 195 yang terdapat pada buku bahasa indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017.

Sebelum masuk dalam pembahasan soal, baca dan pahami terlebih dahulu pembahasan materi mengenai menganalisis kebahasaan karya ilmiah. Setelah itu, sobat dapat melanjutakan untuk menjawab soal-soal terkait. Langsung saja, untuk pembahasan selengkapnya mari kita simak ulasan berikut ini.

Jawaban Tugas Menganalisis Kebahasaan Karya Ilmiah yang Dibaca Halaman 195

Menganalisis Kebahasaan Karya Ilmiah yang Dibaca

Telah kita pelajari pada materi terdahulu bahwa salah satu ciri karya ilmiah adalah bersifat objektif. Objektivitas suatu karya ilmiah, antara lain, ditandai oleh pilihan kata yang bersifat impersonal. Hal ini berbeda dengan teks lain yang bersifat nonilmiah, semacam novel ataupun cerpen yang pengarangnya bisa ber-aku, kamu, dan dia. Kata ganti yang digunakan dalam karya ilmiah harus bersifat umum, misalnya penulis atau peneliti.

Dalam hal ini, penulis tidak boleh menyatakan proses pengumpulan data dengan kalimat seperti “Saya bermaksud mengumpulkan data dengan menggunakan kuesioner”. Kalimat yang harus digunakan, adalah “Di dalam mengumpulkan data penelitian ini, penulis menggunakan kuesioner.”

Dalam kalimat tersebut, kata ganti saya diganti penulis, atau bisa juga peneliti. Cara lain dengan menyatakannya dalam kalimat pasif, misalnya, “Di dalam penelitian ini, digunakan kuesioner. Di dalam kalimat tersebut, subjek penelitian dinyatakan secara tersurat. Dalam komunikasi ilmiah, memang penulis diharapkan sering mempergunakan kalimat pasif seperti contoh di atas.

Karya ilmiah memerlukan kelugasan dalam pembahasannya. Karya ilmiah menghindari penggunaan kata dan kalimat yang bermakna ganda. Karya ilmiah mensyaratkan ragam yang memberikan keajegan dan kepastian makna. Dengan kata lain, bahasa yang digunakannya itu harus reproduktif. Artinya, apabila penulis menyampaikan informasi, misalnya, yang bermakna X, pembacanya pun harus memahami informasi itu dengan makna X pula. Infomasi X yang dibaca harus merupakan reproduksi yang benar-benar sama dari informasi X yang ditulis.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Ciri Bahasa Iklan

Ragam bahasa yang digunakan karya ilmiah harus lugas dan bermakna denotatif. Makna yang terkandung dalam kata-katanya harus diungkapkan secara eksplisit untuk mencegah timbulnya pemberian makna yang lain. Untuk itu, dalam karya ilmiah kita sering mendapatkan deinisi atau Batasan dari kata atau istilah-istilah yang digunakan. Misalnya, jika dalam karya itu digunakan kata seperti frasa atau klausa, penulis itu harus terlebih dahulu menjelaskan arti kedua kata itu sebelum ia melakukan pembahasan yang

lebih jauh. Hal tersebut penting dilakukan untuk menyamakan persepsi antara penulis dengan pembaca atau untuk menghindari timbulnya pemaknaan lain oleh pembaca terhadap maksud kedua kata itu.

Makna denotasi adalah makna kata yang tidak mengalami perubahan, sesuai dengan konsep asalnya. Makna denotasi disebut juga makna lugas. Kata itu tidak mengalami penambahan-penambahan makna. Adapun makna konotasi adalah makna yang telah mengalami penambahan.

Tambahan-tambahan itu berdasarkan perasaan atau pikiran seseorang terhadap suatu hal.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh-contoh lain dalam tabel di bawah ini!

Tugas

1. Bermakna denotasi atau konotasikah kata bercetak miring pada kalimat-kalimat di bawah ini?

a. Rencananya, Paman akan membuka bengkel di kota ini.

b. Kamu baru sampai ke kampung halaman pukul sebelas malam.

c. Pada malam hari keadaan di kampung nenek sangat sunyi sepi.

d. Tanjakan ini telah memakan dua korban dalam perayaan ulang tahun kemarin.

e. Di ujung jalan tersebut terdapat sebuah pos polisi.

f. Kami selalu berhati-hati jika melewati daerah itu.

g. Keadaannya sangat mencekam setelah peristiwa tabrakan itu terjadi.

h. Kalau sempat saya ingin mampir ke warung itu lagi.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Uji Pemahaman halaman 188 NKRI dan Kedaulatan Wilayah PPKn SMA/SMK Kelas 10 Kurikulum Merdeka

i. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ayah akan datang hari ini.

j. Semua ruangan keadaannya gelap, kecuali di bagian ruang tengah.

2. Buatlah kalimat yang masing-masing menggunakan makna denotasi dan konotasi dari kata-kata di bawah ini! Buatlah pada buku kerjamu!

3. Kerjakan latihan berikut sesuai dengan instruksinya!

a. Bacalah cuplikan teks di bawah ini dengan baik.

b. Membahas apakah teks tersebut?

c. Berdasarkan kaidah kebahasannya, buktikan bahwa cuplikan teks tersebut merupakan bagian dari karya ilmiah.

d. Presentasikanlah pendapatmu itu di depan teman-teman untuk mereka tanggapi.

Kasus Mencuri Sandal

Seorang remaja berinisial AAL, gara-gara mencuri sandal, ia harus dimejahijaukan, kemudian divonis bersalah. Masyarakat memandang bahwa aparat penegak hukum sudah keterlaluan, berlaku sistem tebang pilih. Kasus hukum yang ecek-ecek diperkarakan, sementara masih banyak kejahatan serius yang dipandang sebelah mata. Koruptor yang menggasak uang negara miliaran, bahkan triliunan rupiah, dibiarkan melenggang bebas, tidak diotak-atik, tanpa tersentuh hukum.

Polisi dan jaksa disibukkan oleh kasus-kasus sepele, seakan-akan tidak ada kasus lain yang jauh lebih urgen. Kasus pencurian sandal butut dan uang yang hanya seribu perak, sebenarnya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah. Logikanya kalau segala kenakalan remaja itu diperkarakan, penjara akan penuh dengan manusia-manusia belia. Bisa jadi nanti semacam kasus nyolong permen kena penjara, menghilangkan buku perpustakaan dibui, mematahkan pagar bambu balai kelurahan didakwa, menginjak sepatu tentara disidangkan.

Cara kerja mereka seperti dipandang tidak punya arti apa pun bagi kepentingan negara dan rakyat secara luas. Perlakuan itu hanya memenuhi syahwat dan arogansi para penguasa. Padahal keberadaan aparat penegak hukum adalah untuk menjadikan negara dan rakyatnya memperoleh rasa aman dan sejahtera. Sementara itu, keamanan dan kesejahteraan di manamana sedang dikuasai oleh maia-maia dan para koruptor. Hampir setiap waktu masyarakat mengeluhkan fasilitas umum yang rusak, pelayanan publik yang tidak profesional dan sarat pungli, serta sistem peradilan yang memihak.

Baca Juga :  Jawaban PMM Post Test Topik 2, Kurikulum Merdeka

Persoalan-persoalan itulah yang seharusnya menjadi perkara utama aparat penegak hukum. Hal ini karena negara telah mengeluarkan dana sangat besar untuk belanja berbagai sarana dan fasilitas umum; menggaji jutaan pegawai. Namun, kinerja mereka sangat jauh dari harapan.

Harapan rakyat, keberadaan para pengadil itu bukan untuk mengurus perkara yang ecek-ecek. Mencuri tetap merupakan perbuatan salah. Akan tetapi, mereka haruslah memiliki prioritas dan nurani. Kasus-kasus berkelas kakap semestinya menjadi sasaran utama. Korupsi besar-besaran diindikasikan hampir terjadi di setiap instansi, tetapi yang terjadi kemudian hanya satu-dua kasus yang terungkap. Itu pun ketika sampai di meja pengadilan banyak yang lolos, tidak masuk bui.

Aparat penegak hukum beraninya terhadap kaum sandal jepit, orang-orang miskin yang papa. Namun, mereka loyo ketika berhadapan dengan perkara para penguasa dan orang-orang kaya. Dalam perhitungan ilmu ekonomi, apa yang mereka perbuat, jauh dari harapan untuk bisa break event point antara pemasukan dengan pengeluaran masih sangat timpang. Rakyat akhirnya tekor. Mereka dihidupi dan dibiayai dengan “modal”

besar.

Harusnya mereka bisa membayarnya dengan kejujuran dan kerja keras, yakni dengan memenjarakan penjahat-penjahat kelas kakap sehingga uang negara, yang mereka gasak itu bisa dikembalikan. Kesejahteraan dan keamanan negara pun bisa diwujudkan.

Jawaban    :

  1.  
a. Rencananya, Paman akan membuka bengkel di kota ini. (Bermakna denotasi).
b. Kamu baru sampai ke kampung halaman pukul sebelas malam. (Bermakna konotasi).
c. Pada malam hari keadaan di kampung nenek sangat sunyi sepi. (Bermakna denotasi).
d. Tanjakan ini telah memakan dua korban dalam perayaan ulang tahun kemarin. (Bermakna konotasi). e. Di ujung jalan tersebut terdapat sebuah pos polisi. (Bermakna denotasi).
f. Kami selalu berhati-hati jika melewati daerah itu. (Bermakna denotasi).
g. Keadaannya sangat mencekam setelah peristiwa tabrakan itu terjadi. (Bermakna denotasi).
h. Kalau sempat saya ingin mampir ke warung itu lagi. (Bermakna denotasi)
i. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ayah akan datang hari ini. (bermakna denotasi)
j. Semua ruangan keadaannya gelap, kecuali di bagian ruang tengah. (bermakna denotasi)

2. 

Contoh KataBermakna DenotasiBermakna Konotasi
JalanAku berangkat sekolah jalan kaki.Meskipun jalan kehidupan sangat terjal harus tetap dilalui dengan sabar.
KendaraanSepeda motor merupakaan kendaraan beroda dua.kesabaran merupakan kendaraan menuju keberhasilan.
KudaPamanku memelihara banyak kuda.Andi sikapnya terlalu arogan seperti kuda liar.
LampuLampu kamarku sangat terang.Irfan mendapatkan lampu hijau dari ayahnya untuk bekerja di luar negeri.
LariDi hari minggu, banyak orang yang lari pagi.Mirna selalu lari dari tanggung jawab jika melakukan kesalahan.
MataMata ini kemerahan karena iritasi.Edo memiliki mata batin yang kuat.
MogokMobil ayah mogok gara-gara kehabisan bahan bakar.Ribuan karyawan pabrik itu mogok kerja.
PulangPulang sekolah, Ani mampir ke perpustakaan terlebih dahulu.Kakek Ima sudah 1 minggu pulang ke pangkuan Tuhan.
RodaRoda sepedaku rusak sehingga dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.Beginilah roda kehidupan, kadang di atas kadang di bawah!
TerlambatGara-gara bangun kesiangan, Budi terlambat datang ke sekolah.Kakakku sudah 1 bulan terlambat datang bulan.

Kesimpulan

Nah sobat, itulah pembahasan mengenai jawaban tugas menganalisis kebahasaan karya ilmiah yang dibaca halaman 195 yang terdapat pada buku bahasa indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017.

Disclaimer :  Jawaban yang telah dibahas di atas bukan jawaban yang mutlak benar, akan tetapi artikel ini diharapkan dapat membantu sobat dalam belajar.

Baca Juga :