Jawaban Menemukan Informasi dalam Sebuah Artikel Opini

Jawaban Menemukan Informasi dalam Sebuah Artikel Opini

Jawaban Menemukan Informasi dalam Sebuah Artikel Opini – Sobat, dalam artikel ini akan disajikan informasi mengenai jawaban menemukan informasi dalam sebuah artikel opini halaman 139 yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Sebelum masuk dalam pembahasan soal sebaiknya sobat baca terlebih dahulu dengan seksama artikel berjudul ”Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik”. Pembahasan soal ini dibuat agar dapat mempermudah sobat dalam belajar, sobat dapat menjawab soal sesuai dengan pemahaman. Untuk itu, kita simak bersama ulasan berikut ini !

Jawaban Menemukan Informasi dalam Sebuah Artikel Opini Halaman 139

Tugas

Sebelum membedakan fakta dan opini, kamu diminta untuk menemukan informasi dalam sebuah artikel opini terlebih dahulu. Berikut ini akan disajikan sebuah artikel dari surat kabar daring (online). Sebelum mengerjakan Latihan pada kegiatan ini, sebaiknya kamu perhatikan beberapa hal berikut ini.

1. Bacalah dengan cermat artikel berjudul ”Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik” berikut ini.

2. Temukan dan tandai informasi yang kamu peroleh dari artikel berikut ini.

Kemudian, tulislah pada kolom yang telah disediakan (kerjakan di buku tugasmu).

Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik

Jumat, 30 Oktober 2015 Indonesia kembali kehilangan seniman ”dongeng” paling berpengaruh dalam perkembangan seni, terutama di kalangan anak-anak era 80-an. Pak Raden alias Suyadi adalah seniman senior sekaligus pencipta kisah boneka kayu ”Si Unyil”, sebuah film seri televisi Indonesia produksi PPFN. Kisah cerita si boneka kayu ini adalah legenda bagi semua anggota generasi 80-an sampai awal 90-an.

Legenda Unyil sedikit bercerita, kisah si Unyil yang diciptakan Pak Raden, alumnus seni rupa ITB ini, diilhami dari pertunjukan wayang atau boneka kayu anak-anak di Prancis. Karakter boneka anak tersebut dinamai Guignol.

Baca Juga :  Jawaban Kutipan Tidak Langsung Dan Sumber Rujukannya

Ia tokoh boneka yang diciptakan pada 1808 oleh Laurent Mourguet, seorang marionnettiste (dalang perempuan). Sampai saat ini Guignol masih digunakan sebagai hiburan anak-anak melalui pertunjukan di teater Guignol. Ia juga menjadi ikon atau maskot Kota Lyon, Prancis. Antusiasme anak-anak Lyon untuk menikmati hiburan.

Guignol ini masih sangat tinggi sampai sekarang. Setelah beberapa kali menyaksikan pertunjukan Guignol, memang cukup berbeda dengan legenda Si Unyil. Pentas Guignol adalah murni sebagai ajang hiburan anak-anak Kota Lyon dan sekitarnya, tempat pusat teater Guignol berada. Dari segi ide cerita, hampir tidak ada muatan edukasi di dalamnya.

Cerita Guignol sebatas cerita-cerita ringan anak-anak. Berbeda dengan kisah Si Unyil. Dalam beberapa cerita, kisah Unyil memang memiliki muatan ideologis dan muatan politis tertentu. Ketika saat itu, Orde Baru masihberjaya, ia pun menggunakan media film anak-anak untuk mempertahankan eksistensinya. Melalui Unyil, pemerintah juga turut menyosialisasikan banyak program atau kebijakannya seperti Keluarga Berencana, ajakan melakukan ronda malam, sekolah, dan lainnya. Ini tidak berbeda dengan kisah Guignol pada masa awal kemunculannya. Guignol juga menjadi instrumen politik pemerintah Prancis di kala itu.

Kisah Unyil sangat menghegemoni jagat hiburan anak-anak di eranya, ketika stasiun televisi swasta belum bertaburan seperti sekarang. Sosialisasi kebijakan pemerintah melalui media anak-anak ini pun kemudian menjadi sangat masif. Terbukti, kisah si Unyil sangat melegenda sampai sekarang meski ia tayang terakhir kali awal era 90-an di TVRI.

Ketika stasiun RCTI dan TPI mencoba menayangkan kembali kisah ini, respons anak-anak pun tidak sebagus ketika ditayangkan di TVRI. Ini karena jagat hiburan anak-anak telah berubah mulai era 90-an. Hiburan anak-anak telah digantikan film-film kartun impor: Doraemen, He-man, Sailormoon, Shinchan, Naruto, dan yang lain. Nyaris, mulai era ini, anak-anak kehilangan banyak hiburan bernuansa ”Indonesia” yang penuh muatan pendidikan nilai.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Jelaskan Sejarah Singkat dari Internet! Informatika Kelas 10 Kurikulum Merdeka

Multikultural

Kisah Unyil bukan sekadar ”kisah ideologis” dan ”politis”. Legenda ini juga mengisahkan kehidupan sosial yang harmonis meski dihiasi banyak perbedaan. Ada tokoh Unyil, Ucrit, Usro, dan Meilani (keturunan Tionghoa) sebagai tokoh utama, Bu Bariah si tukang gado-gado, ada Pak Raden (tokoh dari golongan ningrat), Pak Ableh dan Pak Ogah si penjaga pos ronda (sebagai tokoh kelas bawah), ada Pak Kades dan Hansip yang menggambarkan karakter aparat pemerintah.

Keragaman karakter sosial ini menunjukkan bagaimana kisah si Unyil ingin mengajarkan kepada anak-anak di era itu untuk menghargai perbedaan. Perbedaan kelas sosial adalah hal yang paling tampak dalam film ini, serta perbedaan suku bangsa, sampai bagaimana Unyil menjalin hubungan pertemanan dengan orang Tionghoa (Meilani). Ini terobosan besar yang dibuat Pak Raden ketika isu rasial (Tionghoa) menjadi isu sensitif di masa Orde Baru. Kerja sama yang baik ditunjukkan dalam film ini melalui ajakan kerja bakti, ronda malam atau siskamling yang menjadi ”ikon” Orde Baru.

Saat ini kita merindukan film-film sekelas Unyil yang mampu menghiasi dunia anak-anak era 2000-an dan sesudahnya. Saat ini media televisi lebih banyak mengumbar film-film impor yang sarat dengan adegan kekerasan dan beberapa bagian bahkan disensor. Keberadaan ”bagian yang disensor” ini sebenarnya menunjukkan bahwa film-film impor tersebut tidak layak tayang di Indonesia. Ini belum termasuk sinetron anak-anak, tapi bercampur dengan gaya hidup orang dewasa yang tidak layak konsumsi.

Saat ini ada kisah ”Ipin dan Upin” yang berhasil menarik minat anak-anak di Indonesia untuk menontonnya. Secara umum semua substansi film ini hampir sama dengan Si Unyil, berlatar cerita kehidupan anak-anak: kehidupan di sekolah, rumah, bahkan aktivitas mereka ketika tidak bersekolah. Sayang, film ini berbahasa Melayu (Malaysia).

Baca Juga :  Kunci Jawaban Uji Pemahaman halaman 157 Pertukaran Budaya di Pentas Global PPKn SMA/SMK Kelas 10 Kurikulum Merdeka

Sementara film kartun bertema sama berbahasa Indonesia justru kurang menarik minat anak-anak. Kejayaan dan keindahan masa anak-anak seolah telah usai ketika media televisi sudah tidak lagi menunjukkan keramahannya pada dunia anak. Tontonan untuk mereka telah bercampur dengan tontonan orang dewasa. Anak-anak pun lebih familier dengan lagu-lagu dewasa daripada lagu anak-anak.

Era 80-an adalah era emas anak-anak Indonesia. Pada masa itu kita telah dihibur oleh hasil karya Pak Raden yang tayang setiap Minggu pagi dalam bentuk karya film boneka. Sangat disayangkan, masa-masa terakhir kehidupan Pak Raden cukup memprihatinkan untuk seorang seniman besar yang diakui dunia dengan karya besarnya yang bisa dinikmati lebih dari satu dekade. Setelah lama tidak muncul di pemberitaan media, tokoh Pak Raden kembali mencuat, tetapi dengan berita ”Pak Raden Meninggal Dunia”. Kita pantas berterima kasih pada Pak Raden. Selamat jalan Pak Raden.

Jawaban    :

NoInformasi yang diperolehFaktaOpini
1Jumat, 30 Oktober 2015 Indonesia kembali kehilangan seniman ”dongeng” paling berpengaruh dalam perkembangan seni, terutama di kalangan anak-anak era 80-an.V 
2Legenda Unyil sedikit bercerita, kisah si Unyil yang diciptakan Pak Raden, alumnus seni rupa ITB ini, diilhami dari pertunjukan wayang atau boneka kayu anak-anak di Prancis.V 
3Setelah beberapa kali menyaksikan pertunjukan Guignol, memang cukup berbeda dengan legenda Si Unyil. V
4Dari segi ide cerita, hampir tidak ada muatan edukasi di dalamnya. V
5Terbukti, kisah si Unyil sangat melegenda sampai sekarang meski ia tayang terakhir kali awal era 90-an di TVRI.V 
6Ketika stasiun RCTI dan TPI mencoba menayangkan kembali kisah ini, respons anak-anak pun tidak sebagus ketika ditayangkan di TVRI. V

Pendapat mengenai atrikel berjudul ”Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik” :

Melalui artikel tersebut kita dapat mengenal sosok Pak Raden salah satu tokoh si unyil. Artikel tersebut juga menjelaskan bahwa  film Si Unyil banyak memberi wawasan baru bagi anak-anak, akan tetapi mulai era 90-an hiburan anak-anak telah digantikan film-film kartun impor, sehingga anak-anak kehilangan banyak hiburan bernuansa ”Indonesia” yang penuh muatan pendidikan nilai.

Kesimpulan

nah sobat, demikianlah pembahasan mengenai jawaban menemukan informasi dalam sebuah artikel opini halaman 139 yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018. Semoga artikel ini bermanfaat !

Disclaimer : Pembahasan soal di atas merupakan panduan untuk belajar, jawaban tidak mutlak dan bersifat terbuka sehingga masih dapat dikembangkan.

Baca Juga :