Jawaban Tugas Memahami Informasi dan Permasalahan Dalam Ceramah

Jawaban Tugas Memahami Informasi dan Permasalahan Dalam Ceramah

Jawaban Tugas Memahami Informasi dan Permasalahan Dalam Ceramah – Halo sobat, dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai jawaban tugas memahami informasi dan permasalahan dalam ceramah halaman 78 yang terdapat pada Buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017.

Sebelum masuk dalam pembahasan soal, sebaiknya sobat pahami terlebih dahulu mengenai teks ceramah sehingga sobat dapat menjawab pertanyaan di bawah. Untuk pembahasan selengkapnya, mari kita simak bersama ulasan berikut ini.

Jawaban Tugas Memahami Informasi dan Permasalahan Dalam Ceramah Halaman 78

A. Mengidentifikasi Informasi Berupa Permasalahan Aktual yang Disajikan dalam Ceramah

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:

1. memahami informasi dan permasalahan yang didengar atau yang dibaca;

2. menemukan informasi dan permasalahan aktual dalam teks ceramah.

Pernahkah kamu memiliki keinginan untuk tampil di depan umum? Jika ingin tampil di depan umum, salah satu kegiatan berbicara yang bisa kamu lakukan adalah ceramah. Dengan berceramah, kita akan membagi pengetahuan dari apa yang kita kuasai. Bahkan, melalui ceramah, kita dapat berbagi ilmu yang kita miliki kepada orang lain. Jadi, aktivitas ceramah sangat bermanfaat, bukan?

Kegiatan 1

Memahami Informasi dan Permasalahan yang Didengar atau yang Dibaca

Perhatikan teks di bawah ini.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia, Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapan-ungkapan pada banyak

kalangan dalam menyatakan pendapat dan perasaannya, seperti ketika berdemonstrasi ataupun rapat-rapat umum. Kata-kata mereka kasar atau bertendensi menyerang. Tentu saja, hal itu sangat menggores hati yang menerimanya. Gejala yang sama terlihat pula pada penggunaan bahasa oleh para politisi kita, misalnya ketika melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Tanggapan-tanggapan mereka terdengar pedas, vulgar, dan beberapa di antaranya cenderung provokatif. Padahal sebelumnya, pada zaman pemerintahan Orde Baru, pemakaian bahasa dibingkai secara santun lewat pemilihan kata yang dihaluskan maknanya (epimistis).

Kita pun tentu gelisah sebagai orang tua. Kita sering menyaksikan kebiasaan berbahasa anak-anak dan para remaja yang kasar dengan dibumbui sebutan-sebutan antarsesama yang sangat miris untuk didengar.

Baca Juga :  Perancangan Konten Infografis Perlu Memperhatikan Hal-hal Berikut, Apa Saja?

Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan pula dengan rendahnya penghayatan masyarakat terhadap budayanya sebab kesantunan berbahasa itu tidak hanya berkaitan dengan ketepatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan pula dengan adat pergaulan yang berlaku dalam masyarakat itu.

Penyebab utamanya adalah perkembangan masyarakat yang sudah tidak menghiraukan perubahan nilai-nilai kesantunan dan tata krama dalam suatu masyarakat. Misalnya, kesantunan (tata krama) yang berlaku pada zaman kerajaan yang berbeda dengan yang berlangsung pada masa kemerdekaan dan pada masa kini. Kesantunan juga berkaitan dengan tempat: nilai-nilai kesantunan di kantor berbeda dengan di pasar, di terminal, dan di rumah.

Pergaulan global dan pertukaran informasi juga membawa pengaruh pada pergeseran budaya, khususnya berkaitan dengan nilai-nilai kesantunan itu. Fenomena demikian menyebabkan para remaja dan anggota masyarakat lainnya gamang dalam berbahasa. Pada akhirnya mereka memiliki kaidah berbahasa yang mereka anggap bergengsi, tanpa

mengindahkan kaidah bahasa yang sesungguhnya.

Sejalan dengan perubahan waktu dan tantangan global, banyak hambatan dalam upaya pembelajaran tata krama berbahasa. Misalnya, tayangan televisi yang bertolak belakang dengan prinsip tata kehidupan dan tata krama orang Timur. Sementara itu, sekolah juga kurang memperhatikan kesantunan berbahasa dan lebih mengutamakan kualitas otak siswa dalam penguasaan iptek.

Selain itu, kesantunan berbahasa sering pula diabaikan dalam lingkungan keluarga. Padahal, belajar bahasa sebaiknya dilaksanakan setiap hari agar anak dapat menghayati betul bahasa yang digunakannya. Anak belajar tata santun berbahasa mulai di lingkungan keluarga.

Nilai-nilai kesantunan berbahasa dalam beragama juga merupakan salah satu kewajiban manusia yang bentuknya berupa perkataan yang lembut dan tidak menyakiti orang lain. Kesantunan dipadankan dengan konsep qaulan karima yang berarti ucapan yang lemah lembut, penuh dengan pemuliaan, penghargaan, pengagungan, dan penghormatan kepada orang lain. Berbahasa santun juga sama maknanya dengan qaulan ma’rufa yang berarti berkata-kata yang sesuai dengan nilai-nilai yang diterima dalam masyarakat penutur.

Oleh karena itu, pendidikan etika berbahasa memiliki peranan yang sangat penting. Pemerolehan pendidikan kesantunan berbahasa sangat diperlukan sebagai salah satu syariat dalam beragama. Dengan kesantunan, dapat tercipta harmonisasi pergaulan dengan lingkungan sekitar. Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh

Baca Juga :  Kunci Jawaban Aktivitas 11 halaman 93 Seni Lukis Pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan IPS SMP Kelas 7 Kurikulum Merdeka

positif terhadap kematangan emosi seseorang. Semakin intens kesantunan berbahasa itu dapat ditanamkan, kematangan emosi itu akan semakin baik. Aktivitas berbahasa dengan emosi berkaitan erat. Kemarahan, kesenangan, kesedihan, dan sebagainya tercermin dalam kesantunan dan ketidaksantunan itu.

Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil. Anak perlu dibina dan dididik berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak mustahil rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak itu kemudian menjadi orang yang arogan, kasar, dan kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu saja, kondisi itu tidak diharapkan oleh orangtua dan masyarakat manapun.

Teks seperti itulah yang sering kali disebut sebagai ceramah. Mungkin ada pula yang mengatakannya sebagai teks pidato. Teks seperti itu dapat kita peroleh dalam berbagai kesempatan. Di sekolah mungkin saja hampir setiap hari kita mendapatkannya, baik dari guru, kepala sekolah, pembina OSIS, dan pihak-pihak lainnya. Di lingkungan masyarakat pun sering kali kita mendapatkan ceramah. Dari teks semacam itu, kita dapat memperoleh tambahan pengetahuan, informasi, dan wawasan.

Dengan memperhatikan contoh tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan ceramah adalah pembicaraan di depan umum yang berisi penyampaian suatu informasi, pengetahuan, dan sebagainya. Yang menyampaikan adalah orang-orang yang menguasai di bidangnya dan yang mendengarkan biasanya melibatkan banyak orang. Medianya bisa langsung ataupun melalui sarana komunikasi, seperti televisi, radio, dan media lainnya.

Selain itu, ada pula yang disebut dengan pidato dan khotbah. Untuk memahami kedua hal tersebut, cermatilah perbedaan di antara keduanya. 1. Pidato adalah pembicaraan di depan umum yang cenderung bersifat persuasif, yakni berisi ajakan ataupun dorongan pada khalayak untuk berbuat sesuatu.

2. Khotbah adalah pembicaraan di depan umum yang berisi penyampaian pengetahuan keagamaan atau praktik beribadah dan ajakan-ajakan untuk memperkuat keimanan.

Tugas

1. Jawablah dengan benar dan jelas!

a. Apa manfaat jika kamu mendengarkan ceramah?

b. Apa manfaat jika kamu menyajikan ceramah?

c. Kapan dan di mana saja kesempatan mendengarkan ceramah itu dapat kita ikuti?

Baca Juga :  Jelaskan 4 Fondasi Berpikir Komputasional yang Dikenal Dalam Indormatika! - Jawaban Lengkap

d. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara ceramah dengan pidato serta khotbah?

e. Informasi/pengetahuan apa saja yang dapat kamu peroleh dari teks ceramah di atas? Jelaskan!

Jawaban    :

  1. Manfaat mendengarkan ceramah ialah menambah wawasan, membuka pikiran, menambah pengetahuan, menjadi sarana pengingat, mencerahkan pikiran, melatih konsentrasi dan memotivasi tampil di depan umum.
  2. Manfaat menyajikan ceramah ialah memberikan informasi dan pengetahuan, memberikan motivasi dan semangat hidup, bimbingan rohani dana Kesehatan mental, berbagi dan menambah ilmu, melatih kemampuan berbicara, serta menambah relasi.
  3. Kesempatan mendengarkan ceramah dapat kita ikuti kapanpun dan dimanapun, seperti di sekolah, di kampus, di tempat ibadah dan di tempat-tempat kita dapat mendengarkan ceramah.
  4. Persamaan ceramah dengan pidato serta khotbah ialah mengungkap pandangan atau pendapat tentang sesuatu dengan argumen-argumen yang kuat yang bertujuan untuk meyakinkan pendengar tentang pentingnya suatu permasalahan.

Perbedaan

Ceramah : Topik pembicaraannya bersifat pengetahuan maupun keagamaan namun tidak dikhususkan untuk agama tertentu, terdapat interaksi berupa tanya jawab antara pembicara dan pendengar.

Pidato : Topik pembicaraannya bersifat umum, tidak ada interaksi antara pembicara dan pendengar, ditujukan untuk kalangan umum, serta dilakukan pada acara dan tepat tertentu.

Khotbah : Topik pembicaraannya bersifat keagaaman, ditujukan untuk agama tertentu, tidak ada interaksi dan dilakukan di tempat ibadah agama tertentu.

5. Informasi yang diperoleh dari teks ceramah di atas : Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya, Fenomena menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat, Pendidikan etika berbahasa memiliki peranan yang sangat penting, Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil.

Kesimpulan

Nah sobat, itulah pembahasan mengenai jawaban tugas memahami informasi dan permasalahan dalam ceramah halaman 78 yang terdapat pada Buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017.

Disclaimer :  Jawaban yang telah dibahas di atas bukan jawaban yang mutlak benar, akan tetapi artikel ini diharapkan dapat membantu sobat dalam belajar.

Baca Juga :