Jawaban Menganalisis Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah

Jawaban Menganalisis Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah

Jawaban Menganalisis Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah – Halo sobat, dalam pembahasaan kali ini akan disajikan informasi mengenai jawaban menganalisis kebahasaan teks cerita (novel) sejarah. Materi ini terdapat pada buku Bahasa Indonesia kelas XII yaitu buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Sobat akan melakukan analisis kutipan novel sejarah Kemelut di Majapahit, yang terdapat pada buku tersebut ada di halaman 36-39. Untuk dapat menjawab pertanyaan terkait, pahami terlebih dahulu materi di bawah.

Setelah itu kerjakan tugas dalam bentuk tabel analisis unsur kebahasaan dalam novel sejarah kutipan novel sejarah Kemelut di Majapahit. Langsung saja kita simak bersama ulasan berikut ini !

Jawaban Menganalisis Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah Halaman 62

B. Menganalisis Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:

(1) menganalisis kebahasaan teks cerita (novel) sejarah; dan

(2) menjelaskan makna kias yang terdapat dalam teks cerita (novel) sejarah.

Setiap teks memiliki unsur kebahasaan yang berbeda-beda, demikian pula dengan novel sejarah. Pada bagian berikut kamu akan mempelajari kaidah kebahasaan novel sejarah.

Kegiatan 1

Menganalisis Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah

Membaca novel sejarah tidak dapat dilepaskan dari bahasa yang digunakan. Seperti diketahui bersama bahwa bahasa novel sejarah yang dianut adalah bahasa yang digunakan dalam karya sastra pada umumnya, yakni konotatif dan emotif. Hal ini berbeda dengan bahasa ilmiah yang denotatif dan rasional. Sekalipun konotatif dan emotif, bahasa novel tetap mengacu kepada bahasa yang digunakan masyarakat (konvensional) agar tetap dipahami oleh pembacanya. Penggunaan bahasa konotatif dan emotif diwujudkan pengarang dengan merekayasa bahasa dengan menggunakan beragam gaya bahasa, pencitraan, dan beragam pengucapan (style).

Seorang pembaca, menurut Teeuw (1984:318), harus memiliki kompetensi sastra, yakni keseluruhan konvensi yang memungkinkan pembacaan dan pemahaman karya sastra. Konvensi ini memungkinkan munculnya prinsip bahwa setiap karya sastra pada dasarnya merupakan pengejawantahan suatu sistem yang harus dikuasai oleh pembaca agar mampu memahami karya yang dibacanya. Konvensi ini sifatnya beraneka ragam, mulai dari bersifat umum sampai khusus, seperti kovensi yang membedakan teks sastra dari yang bukan sastra; prosa dari puisi; novel detektif, novel sejarah, dan novel fiksi ilmiah; dan pantun, gurindam, sampai syair. Sifat ini ditambah lagi dengan konvensi sosial yang mengiringi gejala sastra dalam setiap masyarakat, seperti konvensi bahasa, konvensi budaya, dan konvensi sastra.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Hari Air Sedunia

Bahan dasar novel sejarah adalah bahasa. Bahasa merupakan sistem tanda yang digunakan oleh masyarakat. Tanda itu bermakna dan disepakati oleh masyarakat. Menurut Teeuw (1984:96), di dalam sistem tanda itu tersedia perlengkapan konseptual yang sulit dihindari karena merupakan dasar pemahaman dunia nyata dan sekaligus merupakan dasar komunikasi antaranggota masyarakat. Namun, di sisi lain, sistem bahasa juga memiliki sifat-sifat yang khas (Teeuw, 1984:97), yakni lincah, luwes, longgar, malahan licin dan licik, serta penuh dinamika sehingga memberikan segala macam kemungkinan untuk pemanfaatan yang kreatif dan orisinal (termasuk dari segi konsep).

Dalam sistem bahasa di dunia, tidak satu pun sistem bahasa yang universal. Artinya, sistem bahasa yang dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu akan berbeda dengan sistem bahasa yang dimiliki oleh masyarakat lainnya. Perbedaan ini yang pertama dan terutama adalah latar belakang budaya dari masyarakatnya yang tidak termanifestasi dalam sistem tanda bahasa secara eksplisit. Oleh karena itu, pemahaman suatu novel yang menjadikan Bahasa sebagai bagian dari sistem sastra akan tergantung pula pada budaya yang melatarbelakangi novel tersebut.

Beberapa kaidah kebahasaan yang berlaku pada novel sejarah adalah sebagai berikut

1. Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau.

Contoh:

a. Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan Gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya.

b. Dalam banyak hal, Gajah Mada bahkan sering mengemukakan pendapat-pendapat yang tidak terduga dan membuat siapa pun yang mendengar akan terperangah, apalagi bila Gajah Mada berada di tempat berseberangan yang melawan arus atau pendapat umum dan ternyata Gajah Mada terbukti berada di pihak yang benar.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Aktivitas 14 halaman 237 Tabungan dan Investasi IPS SMP Kelas 7 Kurikulum Merdeka

2. Menggunakan banyak kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis, temporal), Seperti: sejak saat itu, setelah itu, mula mula, kemudian.

Contoh:

a. Setelah juara gulat itu pergi Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang-tenang masuk ke kadipaten.

b. ”Sejak sekarang kau sudah boleh membuat rancangan yang harus kaulakukan, Gagak Bongol. Sementara itu, di mana pencandian akan dilakukan, aku usahakan malam ini sudah diketahui jawabnya.”

3. Menggunakan banyak kata kerja yang menggambarkan suatu Tindakan (kata kerja material)

Contoh:

Di depan Ratu Biksuni Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk bersimpuh. Emban tua itu melanjutkan tugasnya, kali ini untuk Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang terlihat lebih tegar dari kakaknya, atau boleh jadi merupakan penampakan dari isi hatinya yang tidak bisa menerima dengan tulus pernikahan itu. Ketika para Ibu Ratu menangis yang menulari siapa pun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali tidak menitikkan air mata. Manakala menatap segenap wajah yang hadir di ruangan itu, yang hadir dan melekat di benaknya justru wajah Rakrian Tanca. Ayunan tangan Gajah Mada yang menggenggam keris ke dada prajurit tampan itu masih terbayang melekat di kelopak matanya.

4. Menggunakan banyak kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang. Misalnya, mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut, mengungkapkan, menanyakan, menyatakan, menuturkan.

Contoh:

a. Menurut Sang Patih, Galeng telah periksa seluruh kamar Syahbandar dan ia telah melihat banyak botol dan benda-benda yang ia tak tahu nama dan gunanya

b. Riung Samudera menyatakan bahwa ia masih bingung dengan semua penjelasan Kendit Galih tentang masalah itu.

5. Menggunakan banyak kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental), misalnya, merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mentakan, menganggap.

Contoh:

a. Gajah Mada sependapat dengan jalan pikiran Senopati Gajah Enggon.

b. Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir Patih Daha Gajah Mada memang mampu dan layak berada di tempat yang sekarang ia pegang.

Baca Juga :  Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi)

6. Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda petik ganda (”….”) dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung.

Contoh:

”Mana surat itu?”

”Ampun, Gusti Adipati, patik takut maka patik bakar.” “Surat apa, Nyi

Gede, lontar ataukah kertas?”

”Lon… lon… lon… kertas barangkali, Gusti, patik tak tahu namanya.

Bukan lontar.”

”Bukankah bukan hanya surat saja telah kau terima? Adakah real Peranggi pernah kau terima juga?”

”Ada, Gusti real mas, Patik mohon ampun, karena tiada mengetahui adakah itu real Peranggi atau bukan.”

”Real Peranggi, dua,” Sang Adipati mendengus menghinakan, ”dan gelang, bukan?” “Demikianlah, Gusti, dan gelang.”

”Dan kalung, dan cincin mas, semua bermata zamrud dan mutiara. Bukan?”

7. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana.

Contoh:

Gajah Mada mempersiapkan diri sebelum berbicara dan menebar pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan dari satuan masing-masing. Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besar wibawa Gajah Mada, bahkan beberapa prajurit harus mengakui wibawa yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih besar dari wibawa Jayanegara. Sri Jayanegara masih bisa diajak bercanda, tetapi tidak dengan Patih Daha

Gajah Mada, sang pemilik wajah yang amat beku itu.

Tugas

Petunjuk: Bacalah kembali kutipan novel sejarah Kemelut di Majapahit (jilid 01).Kemudian, analisislah kaidah kebahasaan novel sejarah tersebut dengan mengisi tabel berikut ini.

Jawaban    :

Tabel Analisis Unsur Kebahasaan dalam Novel Sejarah

NoKaidah BahasaKutipan Teks
1.Kalimat bermakna lampauAkan tetapi, guncangan pertama yang memengaruhi hubungan ini adalah ketika Sang Prabu telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu.  
2.Penggunaan konjungsi yang menyatakan urutan waktuSetelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana, beliau tidak melupakan jasa-jasa para senopati (perwira) yang setia dan banyak membantunya semenjak dahulu itu membagi-bagikan pangkat kepada mereka.
3.Penggunaan kata kerja materialPasukan ekspedisi yang berhasil baik ini membawa pulang pula dua orang putri bersaudara.
4.Penggunaan kalimat tidak langsungTirtowati juga memperingatkan karena melempar nasi ke atas lantai seperti itu penghinaan terhadap Dewi Sri dan dapat menjadi kualat. Akan tetapi, Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua orang istrinya yang berusaha menghiburnya.
5.Penggunaan kata kerja mentalSang Prabu sangat mencintai istri termuda ini yang setelah diperisteri oleh Sang Baginda, lalu diberi nama Sri Indraswari.
6.Penggunaan dialog”Kakangmas adipati … harap Paduka tenang …,” Dewi Mertorogo menghibur suaminya. ”Ingatlah, Kakangmas Adipati … sungguh merupakan hal yang kurang baik mengembalikan berkah ibu pertiwi secara itu…”
7.Penggunaan kata sifatDyah Gayatri yang bungsu ini memang cantik jelita seperti seorang dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri dan kecantikannya dipuja-puja oleh para sastrawan di masa itu.   Tentu saja Ronggo Lawe, sebagai seorang yang amat setia sejak zaman Prabu Kertanegara, berpihak kepada Dyah Gayatri.

Kesimpulan

Demikianlah pembahasan mengenai jawaban menganalisis kebahasaan teks cerita (novel) sejarah yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia kelas XII yaitu buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Disclaimer : Pembahasan soal di atas merupakan panduan untuk belajar, jawaban tidak mutlak dan bersifat terbuka sehingga masih dapat dikembangkan.

Baca Juga :