sistem tanam paksa
sistem tanam paksa

Kunci Jawaban Sistem Tanam Paksa Kolonial Belanda

Beritawarganet.com – Kunci Jawaban Sistem Tanam Paksa Kolonial Belanda. Pada masa penjajahan sektor pertanian di Indonesia berkembang dengan pesat karena ada campur tangan Belanda dalam kegiatannya. Sobat BW, meskipun berkembang dalam sektor pertanian, tetapi kehidupan petani Indonesia jauh dari kesejahteraan. Mengapa seperti itu?

 

Para petani pribumi mengaami tidak mendapatkan haknya secara penuh dari hasil pertanian mereka. Pada masa kolonial Belanda, petani bekerja dibawah tekanan aturan dari pemerintah Belanda. Sistem kerja petani pada saat itu disebut dengan sistem tanam paksa. Bagaimana aturan dan pelaksanaan sistem tanam paksa pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, mari kita cari tahu bersama.

 

Bacalah bacaan berikut!

 

Sistem Tanam Paksa Pemerintah Kolonial Belanda

 

Pada masa kepemimpinan Johanes Van Den Bosch, Belanda memperkenalkan sistem tanam paksa. Sistem tanam paksa pertama kali diperkenalkan di Jawa dan dikembangkan di daerah-daerah lain di luar Jawa. Di Sumatra Barat, sistem tanam paksa dimulai sejak tahun 1847. Saat itu, penduduk yang telah lama menanam kopi secara bebas dipaksa menanam kopi untuk diserahkan kepada pemerintah kolonial. Sistem yang hampir sama juga dilaksanakan di tempat lain seperti Minahasa, Lampung, dan Palembang. Kopi merupakan tanaman utama di Sumatra Barat dan Minahasa. Adapun lada merupakan tanaman utama di Lampung dan Palembang. Di Minahasa, kebijakan yang sama kemudian juga berlaku pada tanaman kelapa.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Manfaat Minyak Bumi

 

sistem tanam paksa

 

Pelaksanaan tanam paksa banyak terjadi penyimpangan, di antaranya sebagai berikut.

1. Jatah tanah untuk tanaman ekspor melebihi seperlima tanah garapan, apalagi jika tanahnya subur.

2. Rakyat lebih banyak mencurahkan perhatian, tenaga, dan waktunya untuk tanaman ekspor sehingga banyak yang tidak sempat mengerjakan sawah dan ladang sendiri.

3. Rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja melebihi 1/5 tahun.

4. Waktu pelaksanaan tanam paksa ternyata melebihi waktu tanam padi (tiga bulan) sebab tanaman-tanaman perkebunan memerlukan perawatan terus-menerus.

5. Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak yang harus dibayarkan kembali kepada rakyat ternyata tidak dikembalikan kepada rakyat.

6. Kegagalan panen tanaman wajib menjadi tanggung jawab rakyat/petani.

 

Adanya penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan tanam paksa mem bawa akibat yang memberatkan rakyat Indonesia. Akibat penyimpangan pelaksanaan tanam paksa tersebut antara lain: banyak tanah terbengkalai sehingga panen gagal, rakyat makin menderita, wabah penyakit merajalela, bahaya kelaparan melanda Cirebon dan memaksa rakyat mengungsi ke daerah lain untuk menyelamatkan diri. Kelaparan hebat juga terjadi di Grobogan yang mengakibatkan banyak kematian sehingga jumlah penduduk menurun tajam.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Uji Pemahaman halaman 157 Pertukaran Budaya di Pentas Global PPKn SMA/SMK Kelas 10 Kurikulum Merdeka

 

Tanam paksa yang diterapkan Belanda di Indonesia ternyata mengakibatkan aksi penentangan. Berkat adanya kecaman dari berbagai pihak, akhirnya pemerintah Belanda menghapus tanam paksa secara bertahap. Salah satu tokoh Belanda yang menentang sistem tanam paksa adalah Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli.

Dia menentang tanam paksa dengan mengarang buku berjudul Max Havelaar. Edward Douwes Dekker mengajukan tuntutan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk lebih memperhatikan kehidupan bangsa Indonesia karena kejayaan negeri Belanda itu merupakan hasil tetesan keringat rakyat Indonesia. Dia mengusulkan langkah-langkah untuk membalas budi baik bangsa Indonesia. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

a. Pendidikan (edukasi).

b. Membangun saluran pengairan (irigasi).

c. Memindahkan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya (transmigrasi).

 

Ayo Berlatih

Ayo, temukan kosakata baku dan kata serapan pada bacaan yang berjudul “Sistem Tanam Paksa Pemerintah Kolonial Belanda”. Kemudian, carilah arti katanya. Kamu dapat mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia, bertanya kepada Guru, atau berdiskusi.
Perhatikan cara-cara menggunakan kamus berikut.

1. Pilihlah sebuah kata dari daftar kosakata barumu, misalnya: pilar.

2. Bukalah kamusmu. Carilah daftar kata-kata yang dimulai dengan huruf awal “p”. Ingat, setiap kata pada kamus selalu diurutkan berdasarkan urutan abjad.

3. Dalam daftar kata yang berhuruf awal “p”, carilah daftar kata yang dimulai dengan “pi”.

4. Carilah daftar kata yang dimulai dengan “pil”. Kata pilar akan kamu temukan di antara kata-kata itu. Selamat mencari.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Perbandingan Pamflet Papandayan dan Pamflet Wisata Green Canyon, Bahasa Indonesia Halaman 20 Kelas 7 Kurikulum Merdeka

 

 

Pahamilah bacaan di atas! Tuliskan informasi penting dalam bacaan ke dalam kolom-kolom berikut dengan menggunakan prinsip: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana!

 

1. Apakah tanam paksa itu?

Tanam paksa adalah sistem di mana penduduk dipaksa menanam kopi yang kemudian hasilnya diserahkan kepada pemerintah kolonial.

 

2. Di manakah tanam paksa dilaksanakan?

Tanam paksa dilaksanakan di Jawa, Sumatra Barat, Minahasa, Lampung, dan Palembang.

 

3. Apa akibat tanam paksa?

Akibat tanam paksa adalah banyak tanah terbengkalai sehingga panen gagal rakyat makin menderita wabah penyakit merajalela bahaya kelaparan melanda Cirebon dan memaksa rakyat mengungsi ke daerah lain untuk menyelamatkan diri.
Kelaparan juga terjadi di Grobogan yang mengakibatkan banyak kematian sehingga jumlah penduduk menurun tajam

 

4. Siapakah yang menerapkan tanam paksa?

Yang menerapkan tanam paksa adalah Johanes Van Den Bosch.

 

5. Bagaimana tanam paksa dilaksanakan?

Tanam paksa dilaksanakan tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, sehingga banyak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. Penyimpangan tersebut seperti:

Jatah tanah untuk tanaman ekspor melebihi seperlima tanah garapan, apalagi jika tanahnya subur.

Rakyat lebih banyak mencurahkan perhatian, tenaga, dan waktunya untuk tanaman ekspor sehingga banyak yang tidak sempat mengerjakan sawah dan ladang sendiri.

Rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja melebihi 1/5 tahun.

Waktu pelaksanaan tanam paksa ternyata melebihi waktu tanam padi (tiga bulan) sebab tanaman-tanaman perkebunan memerlukan perawatan terus-menerus.

Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak yang harus dibayarkan kembali kepada rakyat ternyata tidak dikembalikan kepada rakyat.

Kegagalan panen tanaman wajib menjadi tanggung jawab rakyat/petani.

 

6. Siapakah penentang tanam paksa?

Penentang tanam paksa adalah Douwes Dekker yang mempunyai nama samaran Multatuli.

 

Dengan adanya sistem tanam paksa pada masa kolonial Belanda, petani Indonesia mengalami kerugian karena aturan-aturan yang diberlakukan. Banyak masyarakat yang menderita kelaparan, lahan yang tidak terurus, dan wabah penyakit yang merajalela.

 

Beruntung seorang tokoh Belanda menyadari jika sistem tanam paksa sangat merugikan masyarakat Indonesia sehingga dia mengusulkan pemerintah Belanda untuk dapat membalas budi baik bangsa Indonesia dengan memberikan pendidikan, membangun saluran pengairan (irigasi), dan memindahkan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya (transmigrasi).
Semoga bermanfaat ya..