Cara Aktivasi Windows 11 di Perangkat PC/Laptop dengan Mudah

Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Buku Drama

Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Buku Drama – Sobat, dalam artikel ini akan disajikan informasi tentang jawaban menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam buku drama halaman 231 yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Sebelum masuk dalam pembahasan soal, sebaiknya baca terlebih dahulu teks Tempat Istirahat, setelah itu kerjakan tugas di bawah sesuai dengan pemahaman sendiri. Berikut penjelasan selengkapnya, simak yuk !

Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Buku Drama Halaman 231

Kegiatan 2

Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Buku Drama

Buku drama merupakan kumpulan dari beberapa naskah drama. Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Drama berasal dari bahasa Yunani ”draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Drama pentas adalah jenis kesenian mandiri, yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis, seni kostum, seni rias, dan sebagainya.

Baca Juga : 5 Twibbon Gratis Hari Lahir BAZNAS ke-22 Tahun 2023

Di bawah ini adalah salah satu contoh naskah drama. Selamat membaca!

Tempat Istirahat

Karya: David Campton

Di Pekuburan Umum, Terdengar Suara-Suara Burung. Deru Ribut Kendaraan Di Kejauhan. Sepasang Orang Tua Sedang Duduk Di Bangku. Hari Sudah Sore

NENEK : Jadi jauh.

KAKEK : Jadi lebih jauh.

NENEK : Aku gembira bisa duduk di sini. Bagaimanapun, kebaikan merekalah menempatkan bangku di sini, di mana kita bisa bebas melihat bunga.

KAKEK : Apa yang akan kita makan nanti malam?

NENEK : Sudah bertahun-tahun.

KAKEK : Kukira aku mulai lapar.

NENEK : Maret, Juli, September. Sudah September lagi. Tak banyak di kota besar, dimana kau bisa bebas melihat bunga, kecuali di pasar bunga atau di toko-toko. Tapi kau tak dapat duduk-duduk di sana. Aku gembira kita bisa ke sini pulang belanja. Di sini bisa duduk-duduk sambil memandangi bunga-bunga, di pekuburan ini.

Baca Juga : Cara Mengatasi Windows 11 Can’t Connect To This Network

KAKEK : Tak dapat lama-lama.

NENEK : Kita beruntung mendapatkan pekuburan di tengah perjalanan pulang.

KAKEK : Beruntung?

NENEK : Sungguh tenteram di sini.

KAKEK : Tak lama bedug akan berbunyi dan adzan akan berkumandang. Hari sudah maghrib. Kita akan pulang.

(Hening, Mau Pergi)

Kita harus pulang kalau sudah maghrib.

(Hening)

Hari akan jadi gelap. Kita harus di rumah

(Hening)

Makan malam.

NENEK : Tak ada tempat yang lebih tenteram daripada dalam kuburan.

Baca Juga : Jawaban Menemukan Nilai yang Terkandung dalam Buku Pengayaan

KAKEK : Tak dapat lagi menaiki pagar, seperti biasanya dulu.

NENEK : Nisan-nisan dari batu marmer.

KAKEK : Kau dengan nisan-nisanmu.

NENEK : Sebuah nisan dipahat dengan ayat-ayat suci.

KAKEK  : (Melihat Pada Keranjang Belanjaan) Apa di keranjang itu?

NENEK : Pahatan yang halus, pada batu marmer putih.

KAKEK : Ada sesuatu dalam keranjang itu yang tak kuketahui apa?

NENEK : Di atasnya diberi atap dari seng. Tiang-tiangnya dari besi. Sungguh aman berada di bawah atap yang kokoh.

Baca Juga :  Kunci Jawaban " Belajar Gerakan Tari Daerah"

KAKEK : Kulihat kau memungut sesuatu tadi. Aku melihatnya dengan sudut pandangku ketika di muka penjual, kau selipkan sesuatu ke dalam keranjang.

NENEK : Nisan yang indah. Satu dua jambangan porselin dengan bunga-bunga dahlia. Tetapi ada sesuatu yang khusus dengan badan kuburan yang terbuat dari marmer putih itu. Ukiran halus seorang ahli.

Baca Juga : Jawaban Menentukan Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Sebuah Buku Pengayaan (Nonfiksi)

(Ia Memukul Tangan Si Kakek Dari Keranjang)

Jangan menggerayangi keranjangku!

KAKEK : Dendeng?

NENEK : Bukan.

KAKEK : Atau pindang?

NENEK : Matanya kayak mata elang saja.

KAKEK : Pindang tongkol?

NENEK : Jika mau tahu, sepotong pindang bandeng.

KAKEK : Pindang bandeng, ya?

NENEK : Sudah lama kita tak makan bandeng.

KAKEK : Aku suka bandeng.

NENEK : Itulah sebabnya kuambil itu. Kukatakan pada diriku sendiri: sore Sabtu ini kita akan makan dengan lauk yang layak. Kita akan makan sambel petai dan sayur lodeh.

Baca Juga : Cara Mengubah Power Mode di Windows 11

KAKEK : Dan pindang bandeng.

NENEK : Ya, ada sesuatu yang istimewa dengan kuburan itu. Marmer putih yang memantulkan cahaya matahari.

KAKEK : Sebentar lagi akan terbenam.

NENEK : Tenteram. Kau tak dapat temukan yang lebih menyenangkan. Di mana-mana tempat teratur. Lihatlah sekelompok bunga-bunga di sana. Anggrek.

KAKEK : Anggrek pada kuburan? Tentu nantinya mereka akan meletakkan setampir nasi tumpeng.

NENEK : Anggrek!

KAKEK : Nah, kini kau tahu, kuburan siapa itu, kan?

Baca Juga : Cara mengubah Pengaturan Mode Sleep di Windows 11

NENEK : Aku tak menyangka kalau ada orang yang memasang bunga anggrek.

KAKEK : Itu kuburan Mas Parto, Kasir Pegadaian.

NENEK : Mas Parto? Apa ia mati?

KAKEK  : Mereka baru saja menguburnya.

NENEK : Mas Parto, Yah. Buat lelaki tak jadi soal benar umur itu. Baru saja ia melewati usia sembilan puluh.

KAKEK : Selama hidupnya, ia telah mengenyam madu kehidupan. Segala bentuk kesenangan; dari arak, perempuan, dan perjudian, segala. Ia punya cara yang jelas.

NENEK : Uang mengalir seperti air. Anggrek. Dikubur bersama dengan kuburan isterinya.

KAKEK : Setelah limapuluh tahun bersama, baru di situlah mereka bersanding tanpa bertengkar lagi.

NENEK : Aku tak tahu, ketika hendak memesan nisan, apakah mereka akan mencantumkan huruf-huruf yang berbunyi: Mas Parto dan Isteri. Dalam mautpun mereka tak terpisahkan.

Baca Juga : Daftar Shortcut Windows 11 Yang Perlu Kamu Tahu

KAKEK : Sudahlah…

NENEK : Dalam maut…

KAKEK : Jangan mulai lagi.

NENEK : Aku tahu, apa-apa saja yang akan dikatakan orang tentang dia.

KAKEK : Harusnya kita tak berhenti di sini. Setiap kali kau akan selalu terpaku.

NENEK : Di mana mereka akan mengubur kita, heh?

KAKEK : Hari begini sudah terlambat untuk berfikir begitu. Sudah hampir waktunya buat makan malam.

NENEK : Di mana mereka akan mengubur kita? Dalam sebuah lubang yang hina dan terasing.

KAKEK : Cobalah berpikir tentang yang lain. Berpikirlah tentang pindang bandeng.

NENEK : Tak heran kalau di pinggir jalan kereta api. Di suatu tempat dimana tak pernah dikunjungi seorangpun. Dan mereka akan mengubur kau di dalam sebuah lubang buruk lainnya. Pada lubangmu sendiri. Kita akan terpisah.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Peristiwa Masa Pemerintahan Kolonial

KAKEK : Jika kita berdua sudah mati, apalagi yang hendak dipikirkan?

NENEK : Dikubur bersama orang-orang asing. Sungguh tak pantas. Aku bahkan tak sempat berpikir akan mendapatkan hiasan yang layak. Tak banyak yang kumaui. Sebuah batu nisan yang sederhana, untuk memberi tahu siapa yang terkubur di dalamnya.

KAKEK : Kita tak mampu membiayai penguburan kita sendiri. Bahkan buat membiayai menggali lubangnya, kita tidak mampu.

NENEK : Aku suka kuburan marmer yang megah.

Baca Juga : Cara Membuat Tanda Tangan di Office dengan Mudah

KAKEK : Biayanya begitu banyak.

NENEK : Sebuah nisan yang besar diukir begitu indahnya.

KAKEK : Beratus-ratus ribu. Kita tidak punya beratus-ratus ribu.

NENEK : Dan pada nisan itu ditulis : Pamujo dan Norma, dalam maut mereka tak terpisahkan. Tapi mereka akan memisahkan kita.

(Hening)

Jika kita punya uang, kita bisa bersama-sama selalu, selama-lamanya, sampai akhir zaman.

KAKEK : Kita tidak mempunyai uang. Kita tak pernah mempunyainya.

(Hening)

NENEK : Salah siapa itu?

KAKEK :Itu cerita lama, sayang. Biarlah berlalu.

NENEK : Jika kau seorang miliuner, kau bisa membeli kuburan sendiri yang terbuat dari batu marmer putih. Kau dapat membeli pemakaman keluarga sendiri. Jika kau seorang miliuner.

Baca Juga : Aplikasi Editor Audio Android Terbaik, Kamu Bisa Ngonten Dimanapun!

KAKEK : Aku tidak pernah ditakdirkan jadi miliuner.

NENEK : Mas Parto menumpuk uang. Otaknya tidak seperempat cerdas otakmu, tetapi ia menumpuk uang. Tanpa pertolongan isterinya. Ekonomi? Ia tak mengerti arti kata itu. Tetapi di sana mereka terbaring bersama ditutupi bunga anggrek, tinggal menunggu batu nisannya saja.

KAKEK : Aku tak dapat mencari uang.

NENEK : Sudah kukatakan. Berkali-kali sudah kukatakan bagaimana? Kau tak mau mencari uang. Itulah kesukarannya.

KAKEK : Aku bekas seorang pembuat sepatu, kubikin sepatu.

NENEK : Seharusnya kau mudah mencari uang.

KAKEK : Dalam bertahun-tahun kita nikah, tak pernah kakimu beralas.

NENEK : Seharusnya kau jadi tukang daging. Jual daging banyak dapat uang. Berapa harganya sepotong limpa, dan yang bagaimana yang bisa mengalirkan uang. Kita bisa menghemat, hari demi hari. Aku sudah bisa jadi seorang miliuner, jika sekiranya kau menjadi seorang penjual daging.

KAKEK : Aku tak bisa membayangkan jadi sesuatu selain jadi tukang sepatu.

NENEK : Jika dulu kau mau menurut saranku, kau sekarang sudah jadi miliuner.

KAKEK : Aku tak tahu kau ingin jadi miliuner. Kukira kau hanya menggoda.

NENEK : Menggoda!

(Hening)

KAKEK : Kau telah mengawini lelaki yang salah.

NENEK : Aku melakukan kewajibanku mendorong kau, kau katakan itu menggoda.

KAKEK : Kau harus mengawini lelaki yang pintar cari uang. Seperti Mas Parto. Aku tak punya bakat untuk berbuat begitu, maka akan sia-sia saja meski kucoba. Tapi aku menjalaninya bersama kau. Tiap lebaran kubelikan kau pakaian, dan segala macam yang bisa kucapai dengan uangku. Jika kau menghendaki orang yang pandai memberi uang, seharusnya kau kawin dengan orang lain.

Baca Juga : Jawaban Menganalisis Kebahasaan Kritik Sastra dan Esai

Baca Juga :  Apa yang Dimaksud Perangkat Keras (Hardware)? - SMA Informatika

NENEK : Jika kau tak mau aku mendorongmu, mengapa dulu kau minta aku jadi isterimu?

KAKEK : Semua yang kau pikirkan, adalah batu nisan, itulah.

NENEK : Apalagi yang bisa kita pikirkan?

KAKEK : Aku.

NENEK : Kau bahkan tak punya batu nisan sendiri.

KAKEK : Aku tidak mau bicara tentang batu nisan.

NENEK : Lalu apa yang sedang kau pikirkan?

KAKEK : Aku.

NENEK : Kau.

KAKEK : Kau katakan aku telah menyia-nyiakan seluruh waktuku.

NENEK : Apa lagi yang telah kau lakukan dengan waktumu?

TERDENGAR SUARA BEDUG DIPUKUL DI KEJAUHAN. OBROLAN

MEREKA TERHENTI

NENEK : Senja telah datang.

KAKEK : Selalu datang setiap hari.

Baca Juga : Cara Aktivasi Windows 11 di Perangkat PC/Laptop dengan Mudah

(Hening)

Tak bisakah kau melupakannya?

NENEK : Semakin dingin.

KAKEK : Pegang tanganku.

KAKEK MEMEGANG TANGAN NENEK

NENEK : Suara bedug itu.

KAKEK : Nanti jangan lewat ke sini lagi.

TERDENGAR SUARA ADZAN

NENEK : Adzan.

KAKEK : Waktunya sembahyang.

NENEK : Kita pergi.

(Hening)

Mari.

KAKEK : Kukira sudah terlambat menghendaki jadi miliuner sekarang.

HENING

NENEK : Ada pindang bandeng buat malam.

KAKEK : Bandeng, eh?

NENEK : Dan sambel petai dan sayur lodeh.

Mereka Menggotong Keranjang Belanjaan Mereka Dan Pergi. Nenek Menghentikan Langkahnya, Memandang Ke Arah Tumpukan Bunga-Bunga

NENEK :Anggrek!

KAKEK : Kau tak dapat makan bandeng kalau nasinya dingin.

(PERLAHAN KAKEK MENDORONGNYA LAGI)

NENEK : Tidak. Tak ada yang dapat melebihi pindang bandeng dan sepiring nasi hangat.

MEREKA PERGI. FADE BLACK OUT.

Setelah kamu membaca naskah drama yang berjudul ”Tempat Istirahat”, coba temukan nilai-nilai yang ada dalam isi naskah tersebut yang dapat kamu teladani.

Carilah bukti kalimat yang mendukung nilai-nilai tersebut. Selamat mengerjakan!

Baca Juga : Cara Ubah Ruler Microsoft Word Menjadi Satuan Centimeter Dengan Mudah dan Cepat!

Jawaban :

No Nilai yang terkandung dalam naskah drama Bukti kalimat dan penjelasan
1 Nilai Sosial Ekonomi Nenek :

Tidak. Tak Ada Yang Dapat Melebihi Pindang Bandeng Dan Sepiring Nasi Hangat.

Penjelasan :

Mengandung makna kesederhanaan dalam menjalani hidup.

2 Nilai moral Kakek :

Kau harus mengawini lelaki yang pintar cari uang. Seperti Mas Parto. Aku tak punya bakat untuk berbuat begitu, maka akan sia-sia saja meski kucoba. Tapi aku menjalaninya bersama kau. Tiap lebaran kubelikan kau pakaian, dan segala macam yang bisa kucapai dengan uangku. Jika kau menghendaki orang yang pandai memberi uang, seharusnya kau kawin dengan orang lain.

 

Penjelasan :

Pentingnya menghargai pemberian orang lain dan menghargai perasaan orang lain.

3 Nilai ketuhanan Kakek : Tak lama bedug akan berbunyi dan adzan akan berkumandang. Hari sudah maghrib. Kita akan pulang.

(Hening, Mau Pergi)

Kita harus pulang kalau sudah maghrib.

(Hening)

Penjelasan :

Bahwa bagaimanapun kita sebagai umat manusia yang beragama tidak boleh meninggalkan ibadah.

 

Kesimpulan :

Nah sobat, itulah ulasan tentang jawaban menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam buku drama halaman 231 yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018. Semoga artikel ini bermanfaat !

Disclaimer : Pembahasan soal di atas merupakan panduan untuk belajar, jawaban tidak mutlak benar dan bersifat terbuka sehingga masih dapat dikembangkan.