Jawaban Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah

Jawaban Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah

Jawaban Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah – Halo sobat dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai jawaban mengidentifikasi nilai-nilai dalam novel sejarah yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Kali ini sobat akan mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat pada novel sejarah berjudul Pangeran Diponegoro. Bacalah dengan seksama novel tersebut, sehingga sobat mampu mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Untuk itu, langsung saja kita simak bersama ulasan berikut ini !

Jawaban Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah Halaman 67

C. Mengonstruksi Nilai-Nilai dalam Novel Sejarah ke dalam Teks Eksplanasi

! Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:

(1) mengidentifikasi nilai-nilai dalam novel sejarah;

(2) mengaitkan nilai-nilai dalam novel sejarah dengan kehidupan saat ini; dan

(3) menyusun kembali nilai-nilai dari novel sejarah ke dalam teks eksplanasi.

Kegiatan 1

Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah

Karya sastra yang baik, termasuk novel sejarah, selalu mengandung nilai (value). Nilai tersebut dikemas secara implisit dalam alur, latar, tokoh, dan tema. Nilai yang terkandung dalam novel antara lain nilai-nilai budaya, nilai moral, nilai agama, nilai sosial, dan nilai estetis.

1. Nilai budaya adalah nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan.

Contoh:

Dan bila orang mendarat dari pelayaran, entah dari jauh entahlah dekat, ia akan berhenti di satu tempat beberapa puluh langkah dari dermaga. Ia akan mengangkat sembah di hadapannya berdiri Sela Baginda, sebuah tugu batu berpahat dengan prasasti peninggalan Sri Airlangga. Bila ia meneruskan langkahnya, semua saja jalanan besar yang dilaluinya, jalanan ekonomi sekaligus militer. Ia akan selalu berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa gegas, sekalipun di bawah matari terik.

Baca Juga :  Kunci Jawaban Ubah Kalimat-Kalimat Langsung Berikut Menjadi Kalimat Tidak Langsung! Bahasa Indonesia Kelas 7 SMP/MTs Halaman 64-65 Kurikulum Merdeka

Sumber: Pramoedya Ananta Toer, Mangir, Jakarta, KPG, 2000

Nilai budaya dalam kutipan di atas adalah nilai budaya Timur yang mengajarkan hidup tenang, tidak terburu-buru, segala sesuatunya harus dihubungkan dengan alam.

2. Nilai moral/etik adalah nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika atau moral.

Contoh:

”Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhi merestui barang siapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabanku, kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keonaran di atas bumi ini…,” dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa.

Sumber: Pramoedya Ananta Toer, Mangir, Jakarta, KPG, 2000

Nilai moral dalam kutipan di atas adalah ketakutan membela kebenaran sama buruknya dengan kejahatan karena sama-sama melanggar keadilan.

3. Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan atau bersumber pada nilai-nilai agama.

Contoh:

Kala itu tahun 1309. Segenap rakyat berkumpul di alun-alun. Semua berdoa, apa pun warna agamanya, apakah Siwa, Buddha, maupun Hindu. Semua arah perhatian ditujukan dalam satu pandang, ke Purawaktra yang tidak dijaga terlampau ketat. Segenap prajurit bersikap sangat ramah kepada siapa pun karena memang demikian sikap keseharian mereka. Lebih dari itu, segenap prajurit merasakan gejolak yang sama, oleh duka mendalam atas gering yang diderita Kertarajasa Jayawardhana

Baca Juga :  Bagaimana Cara Mencari Arti Sebuah Kata dalam Kamus Cetak?, Bahasa Indonesia Kelas 7 Kurikulum Merdeka

Sumber: Gajahmada: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara, Langit Kresna Hariadi

Nilai agama dalam kutipan tersebut tampak pada aktivitas rakyat dari berbagai agama mendoakan Kertarajasa Jayawardhana yang sedang sakit.

4. Nilai sosial yaitu nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat.

Contoh:

Sebagian terbesar pengantar sumbangan, pria, wanita, tua, dan muda, menolak disuruh pulang. Mereka bermaksud menyumbangkan tenaga juga. Maka jadilah dapur raksasa pada malam itu juga. Menyusul kemudian datang bondongan gerobak mengantarkan kayu bakar dan minyak-minyakan. Dan api pun menyala dalam berpuluh tungku. Dalam kutipan di atas, nilai sosial tampak pada tindakan menyumbang dan kesediaan untuk membantu pelaksanaan pesta perkawinan.

5. Nilai estetis, yakni nilai yang berkaitan dengan keindahan, baik keindahan struktur pembangun cerita, fakta cerita, maupun teknik penyajian cerita.

Contoh:

Betapa megah dan indah bangunan itu karena terbuat dari bahanbahan pilihan. Pilar-pilar kayunya atau semua bagian dari tiang saka, belandar bahkan sampai pada usuk diraut dari kayu jati pilihan dengan perhitungan bangunan itu sanggup melewati waktu puluhan tahun, bahkan diharap bisa tembus lebih dari seratus tahun. Tiang saka diukir indah warna-warni, kakinya berasal dari bahan batu merah penuh pahatan ukir mengambil tokoh-tokoh pewayangan, atau tokoh yang pernah ada bahkan masih hidup. Bangunan itu berbeda-beda bentuk atapnya, pun demikian dengan bentuk wajahnya. Halaman tiga istana utama itu diatur rapi dengan sepanjang jalan ditanami pohon tanjung, kesara, dan cempaka. Melingkar- lingkar di halaman adalah tanaman bunga perdu.

Baca Juga :  30 Contoh Pantun Kemerdekaan untuk HUT RI ke-77

Sumber: Gajahmada: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara, Langit Kresna Hariadi.

Nilai estetis dalam kutipan di atas terkait dengan teknik penyajian cerita. Teknik yang digunakan pengarang adalah teknik showing (deskriptif). Teknik ini efektif untuk menggambarkan suasana, tempat, waktu sehingga pembaca dapat membayangkan seolah-olah menyaksikan dan merasakan sendiri.

Latihan

Untuk meningkatkan pemahamanmu tentang nilai-nilai dalam novel sejarah, bacalah dengan saksama kutipan novel sejarah berikut ini, kemudian tentukan nilai yang terkandung di dalamnya.

Pangeran Diponegoro

Patih Danurejo II–yang sebenarnya adalah menantu Sultan Hamengku Buwono II sendiri yang diperkatakan dengan perasaan anyel dan mangkel oleh Ratu Ageng–pada malam yang agak gerimis ini tampak duduk di dalam kereta kuda bersama Raden Mas Sunarko sang tolek (juru bicara), menuju Vredenburg menemui Jan Willem van Rijnst.

……………………………..

Jawaban    :

Nilai-Nilai Dalam Novel Pangeran Diponegoro :

Nilai-nilaiKutipan
1. Nilai Budaya : Bangsa Jawa sangat peka terhadap suara hatinya”Tuan,” kata Danurejo II, menundukkan kepala untuk menunjukkan sikap rendah hati, tapi dengan meninggikan rasa percaya diri dalam niat hati untuk mengasut. ”Barangkali Tuan akan menganggap enteng perkara ini. Tapi, sebaiknya Tuan ketahui-sebab maaf, Tuan masih baru di sini-bahwa kami, bangsa Jawa, sangat peka terhadap suara hati, yaitu perasaan dalam tubuh insani yang sekaligus menjadi wisesa ruhani.”
2. Nilai Moral : Orang cerdik akan bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang yang bebal akan mengumbar kebodohannya.”Hm.” Jan Willem van Rijnst menerka-nerka ambisi Danurejo di balik pernyataan yang kerang-keroh itu. sambil menatap lurus-lurus ke muka Danurejo, setelah membagi arah pandangannya kepada Raden Mas Sunarko yang sangat tolek, Jan Willem van Rijnst berkata dalam hati, “Al wie kloekzinnig is, handelt met wetenschap, maar een zot breidt dwaasheid uit. Deza kakkerlak verwach zeker een goede positie, zodat hij mogelijk corruptie kan doen” (yang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tapi yang bebal membeberkan ketololannya. Kecowak ini pasti berharap kedudukan yang memungkinkan baginya bisa melakukan korupsi).
3. Nilai Agama : Jan Willem van Rijnst bukan orang yang taat beragama, ia beragama khatolik akan tetapi demi mencari muka pada pemegang kekuasaan di Hindia Belanda ia mengikuti agama protestan.Terlebih dulu mestilah dibilang, bahwa Jan Willem van Rijnst adalah seorang oportunis bedegong. Asalnya dari Belanda tenggara. Lahir di Heerlen, daerah Limburg yang seluruh penduduknya Katolik. Tapi, masya Allah, demi mencari muka pada pemegang kekuasaan di Hindia Belanda, sesuai dengan agama yang dianut oleh keluarga kerajaan Belanda di Amsterdam sana yang Protestan bergaris kaku Kalvinisme, maka dia pun lantas gandrung bermain-main menjadi bunglon, membiarkan hatinya terus bergerak-gerak sebagaimana air di daun talas.
4. Nilai Sosial : Sikap Danurejo II yang tetap menghormati, bersikap ramah, dan sopan tehadap Jan Willem van Rijnst yang merupakan musuh Hamengku Buwono II.  Ketika Danurejo II datang kepadanya, dia menyambut dengan Bahasa Melayu yang fasih, sementara pejabat keraton Yogyakarta yang merupakan musuh dalam selimut dari Sultan Hamengku Buwono II ini lebih suka bercakap bahasa Jawa. ”Sugeng”, kata Danurejo II, menundukkan kepala dengan badan yang nyaris bengkok seperti udang rebus. Jan Willem van Rijnst bergerak menyamping, membuka tangan kanannya,  emberi isyarat kepada Danurejo untuk masuk dan duduk. Agaknya untuk penampilan yang berhubungan dengan bahasa Belanda beschaafdheid yang lebih kurang bermakna ’tata krama santun sesuai peradaban’, alih-alih Jan Willem van Rijnst sangat peduli, dan hal itu merupakan sisi menarik darinya yang jali di antara sisi-sisi lain yang menyebalkan.

Kesimpulan

Nah sobat, demikianlah pembahasan mengenai mengenai jawaban mengidentifikasi nilai-nilai dalam novel sejarah, yang terdapat pada buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK KELAS XII Edisi Revisi 2018.

Disclaimer : Pembahasan soal di atas merupakan panduan untuk belajar, jawaban tidak mutlak dan bersifat terbuka sehingga masih dapat dikembangkan.

Baca Juga :