Teknik Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman

Waktu pengendalian

Pengendalian hama dan penyakit tanaman hias sebaiknya dilakukan pada saat cuaca tidak terlalu panas, yaitu pada pagi hari ataupun sore hari pada kondisi cuaca terang atau tidak terjadi turun hujan. Hama banyak menyerang pada saat cuaca tidak terlalu panas/terik sehingga memudahkan dalam pengendalian dikarenakan hama banyak yang mulai keluar, menunjukkan diri untuk beraktivitas, saat itulah lebih efektif dilakukan pengendalian. Jika pengendalian saat hujan turun dan lebat, maka air pun dapat digunakan sebagai sarana penyebaran hama dan penyakit. Demikian juga dengan angin yang bertiup kencang akan memudahkan virus terbawa menyebar sehingga membantu tingkat penyebaran dan penyeranganyai menjad lebih cepat.

Cara pengendalian

a. Pengendalian Hama tanaman hias ( fisik dan kimia )

1) Kutu putih/kutu kebul

Kita sering kesulitan untuk memberantas kutu putih. Hal ini diakibatkan adanya semacam lapisan lilin yang menyelimuti tubuh kutu. Lapisan lilin ini melindungi tubuh kutu putih termasuk dari serangan insektisida. Cara sederhana yang sering dilakukan adalah dengan menyemprotkan larutan detergen cair dengan dosis satu sendok makan detergen cair dicampur satu liter air. Setelah di semprot dengan cairan detergen, maka lapisan lilin pada kutu putih akan hilang, dan warna kutu berubah menjadi kekuningan. Menandakan bahwa “perisai” si kutu sudah hilang, selanjutnya semprot dengan insektisida.

2) Ulat Daun

Hama ulat ada yang menyerang daun, yaitu Spodoptera sp, dan Noctuidae. Penanggulangannya dapat dilakukan dengan mengambil ulat secara mekanis.Bila jumlahnya sudah banyak, ulat dapat dibasmi dengan menyemprotkan insektisida 2 minggu sekali.

3) Belalang

Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual. Dengan jalan menangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun biasanya belalang tidak dapat terbang dengan sayap basah.

4) Tungau /Kutu perisai

Kutu perisai dapat diatasi menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate. Pengendalian: digosok dengan kapas dan air sabun; apabila serangan sudah parah, harus disemprot oleh insektisida dengan dosis 2 cc/liter.

5) Root mealy bugs

Serangan dari root mealy bugs dapat dilakukan yaitu dengan mengganti media tanam.

6) Kutu sisik

Pengendaliannya dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida

7) Tungau (Thrips)

Pada serangan ringan, penanggulangan bisa dilakukan dengan mengerik kumpulan thrips dengan kuku atau alat lain,tetapi pada serangan yang serius maka digunakan insektisida.

Baca Juga :  Langganan Mola TV Euro 2020 Hanya Rp 25.000 Untuk Satu Musim, Review

8) Keong tanpa cangkang

Keong tanpa cangkang aktif di malam hari, makanya pengendalian mekanis bisa dilakukan di malam hari.

9) Aphid

Aphid adalah serangga kecil yang berbentuk seperti buah peer berwarna hijau atau coklat. Dalam jumlah sedikit dilakukan dengan tangan dan mencuci bagian yang terserang dengan air, dalam kondisi sudah tingkat serangannya tinggi digunakan pestisida.

10) Spider mite

Spider mite lebih kebal terhadap insektisida maka disarankan menggunakan akarisida.

11) Fungus gnats

Adalah serangga yang berbentuk seperti nyamuk berwarna hitam. Pada fase masih menjadi larva penanganannya dilakukan dengan menaburkan nematisida seperti Furadan G ke media tanam. Sedangkan pada fase dewasa, dilakukan penyemprotan insektisida.

12) Cacing

Untuk mengatasinya digunakan Nematisida seperti Furadan G yang ditaburkan pada media tanam sesuai aturan yang tertera dalam kemasan. Sebaiknya pestisida digunakan secara bijak pada tanaman hias, mengingat dampak negatif yang bisa ditimbulkan. Pada umumnya tanaman hias diletakkan berdekatan dengan manusia, disamping juga pertimbangan akan adanya kemungkinan serangga menjadi semakin kebal dengan insektisida yang digunakan.

Pengendalian Penyakit tanaman hias

Penyakit tanaman adalah mikroorganisme yang dapat mengganggu tanaman yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi hanya dapat dilihat gejalanya saja.

1) Penyakit yang disebabkan Jamur

Berikut adalah beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias :

a) Busuk Akar

Busuk akar disebabkan oleh serangan jamur Phytium.Sp. Pencegahan yang paling penting adalah dengan menggunakan media tanam yang porous, steril dan menjaga agar media tidak terlalu lembab dan basah berlebihan. Apabila serangan sudah terjadi maka segera bongkar media, buang akar yang terserang, lalu oleskan/spray fungisida seperti Dythane atau Antracol. Tanam kembali ke dalam media baru yang porous dan steril. Pencegahan dan penanganan tanaman yang terserang busuk akar bisa pula dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik seperti Previcur N dengan dosis 2 ml/Liter.

b) Layu Fusarium

Layu Fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysporium. Pencegahan yang perlu dilakukan adalah dengan cara mencegah media tanam basah/becek terlalu berlebihan. Apabila serangan sudah terjadi maka gunakan fungisida Derosal 500 SC dosis 2 ml/Liter, atau Delsane dosis 2 Gr/Liter, atau Folicur 25 WP dosis 2 Gr/Liter. Apabila serangan sudah cukup parah sebaiknya terapi fungisida diikuti dengan penggantian media tanam yang steril

c) Layu Bakteri

Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Erwinia Coratovora. Pencegahan yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan tanaman, hindari kelembaban yang terlalu berlebihan dan jangan sampai membiarkan media terlalu basah dalam waktu lama. Apabila serangan telah terjadi, maka hal paling awal yang harus dilakukan adalah membuang bagian tanaman yang terserang lalu dibakar, agar tidak menular kepada tanaman yang sehat. Jauhkan tanaman yang terserang dari tanaman yang sehat. Lalu semprot tanaman dengan bakterisida Agrept dosis 2 gr/Liter pada seluruh bagian tanaman. Untuk lebih memastikan efektivitas treatmen yang kita lakukan, maka sebaiknya segera ganti media tanam dan pot dengan yang baru dan steril. Untuk serangan yang cukup serius, maka gunakan Agrept dosis 2gr/Liter dicampur dengan fungisida Folicur 250 EC dosis 2ml/ Liter. Bahkan dengan cara mencabut tanaman dari media, dicuci bersih lalu direndam dalam larutan tadi sampai 1 jam.

Baca Juga :  Luar Biasa, Toyota-Astra Motor (TAM) berhasil Lepas Lebih dari 182.000 Unit Tahun 2020
d) Bercak Daun

Bercak daun disebabkan oleh jamur Botrytis Sp. Cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan serta menjaga agar media tanam tidak basah secara berlebihan. Apabila serangan sudah terjadi, maka buang bagian tanaman yang terserang, lalu lakuan penyemprotan fungisida Sistemik macam Folicur 25 WP dosis 2 gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.

e) Antraknosa

Penyebabnya adalah jamur Colletotrichum Gloesporioides Apabila serangan sudah terjadi, maka perlu dilakukan penyemprotan fungisida seperti Dythane 2 Gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.

f) Bercak Kuning

Bercak kuning sering menyerang Anthurium dan telah menjadi momok yang menakutkan bagi petani tanaman hias. Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab penyakit ini. Petani tanaman hias menganggap bahwa penyakit ini bersifat multifaktor seperti media terlalu lembab, aliran udara tidak lancar, komposisi media kurang tepat dan kelebihan pupuk kandang. Meski belum pasti disebabkan oleh jamur, tetapi pengendalian dengan menggunakan fungisida patut dicoba. Cara paling ekstrim yang bisa dilakukan adalah menggunduli semua daun tanaman yang terserang, lalu semprot dengan larutan fungisida. Anakan yang muncul nantinya diharapkan akan menjadi tanaman yang sehat.

Demikian beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias. Karena umumnya serangan penyakit ini disebabkan oleh lingkungan tanaman yang kurang bersih serta media tanam yang becek dan kurang steril, maka tindakan pencegahan dengan menjaga lingkungan tanaman yang bersih dan sehat, memperhatikan sirkulasi udara di sekitar tanaman serta menggunakan media tanam yang porous dan tidak becek berlebihan.

2) Bakteri

Pencegahan yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan tanaman, hindari kelembaban yang terlalu berlebihan dan jangan sampai membiarkan media terlalu basah dalam waktu lama. Apabila serangan telah terjadi, maka hal paling awal yang harus dilakukan adalah membuang bagian tanaman yang terserang lalu dibakar, agar tidak menular kepada tanaman yang sehat. Jauhkan tanaman yang terserang dari tanaman yang sehat. Lalu semprot tanaman dengan bakterisida Agrept dosis 2 gr/Liter pada seluruh bagian tanaman. Untuk lebih memastikan efektifitas treatmen yang kita lakukan, maka sebaiknya segera ganti media tanam dan pot dengan yang baru dan steril.

Untuk serangan yang cukup serius, maka gunakan Agrept dosis 2gr/Liter dicampur dengan fungisida Folicur 250 EC dosis 2ml/ Liter. Bahkan beberapa penggemar tanaman hias menggunakan cara mencabut tanaman dari media, dicuci bersih lalu direndam dalam larutan tadi sampai 1 jam. Sebagai contoh untuk penyakit busuk pangkal batang akibat serangan bakteri. Jika telah terjadinya pembusukan, maka dengan terpaksa batang tersebut akan di potong, agar tidak menjalar ke tanaman lainnya.

3) Virus

Virus yang menyerang tanaman, umumnya tidak dapat dilihat dengan mata biasa harus di lihat dengan kaca pembesar. Jika diperhatikan dengan teliti (menggunakan kaca pembesar), virus yang menyerang tersebut akan kelihatan besar dan hidup berkembang. Jika tidak segera di atasi maka akan merusak semua jenis tanaman yang ada sehingga dapat menimbulkan serangan penyakit.

Baca Juga :  Perbedaan Limas Segiempat dan Limas Segitiga, Simak Penjelasanya
a) Strategi Penanganan Virus pada Tanaman

Pemberantasan virus nyaris tidak mungkin dilakukan karena virus sangat mudah bermutasi. Pengendalian virus hanya dilakukan terhadap serangga vektor penularannya.

b) Langkah pencegahannya
  • Menghindari adanya kontak virus dengan tanaman pada saat usia dini: benih sehat, perlindungan bibit.
  • Menghindari kontak dengan vektor: Tanaman penghalang, kelambu untuk pembibitan, metode strip farming.
  • Mengurangi populasi vektor penular virus dengan memasang perangkap likat kuning maupun aplikasi pestisida.
  • Pengamatan rutin dan memusnahkan tanaman yang terserang (mengorbankan beberapa tanaman untuk menyelamatkan yang lebih besar). (5) Perlakuan benih dengan cara merendam 2 g benih dalam 10 ml trisodium fosfat (Na3PO4.12 H2O) 10 % (10 gram bahan dalam 100 ml air) selama 30 menit. Setelah itu pindahkan Kembali benih yang sudah diperlakukan ke larutan yang sama, dengan membuat larutan yang baru, selama 2 jam. Bila proses tersebut telah selesai, bilas benih dengan air mengalir selama 45 menit.
  • Memperkuat pertumbuhan tanaman agar mampu mengkompensasi akibat serangan virus yaitu dengan menerapkan pemupukan dan pengairan yang tepat dan cukup.
  • Penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) untuk membuat tanaman lebih bugar dan menginduksi ketahanan.
c) Mengendalikan Serangan Virus pada tanaman
  • Identifikasi karakter tanaman (spesies atau varietas). Misal, jenis tanaman tertentu yang tampak tidak normal, bukan karena sakit, tetapi karena karakternya.
  • Periksa individu tanaman abnormal secara keseluruhan dan kelompok tanaman di sekitarnya. Misal, jika daun tanaman menguning karena kerusakan akar, maka permasalahan sebenarnya adalah akar yang rusak bukan daun yang menguning.

Pengendalian secara terpadu

Pengendalian hama terpadu (PHT) pada dasarnya bertujuan untuk tetap mempertahankan populasi hama agar selalu berada pada keseimbangan sehingga sasaran produksi yang direncanakan dapat tercapai dengan cara yang tidak merusak lingkungan hidup. Pestisida hanya digunakan apabila pada satu saat tertentu populasi hama telah meninggalkan populasi musuh alaminya. Jadi konsep PHT, menekankan bahwa pestisida berfungsi untuk mempercepat proses penurunan populasi hama sehingga pengaturan populasi hama oleh musuh alami dapat berjalan kembali seperti biasanya.

Ambang pengendalian atau ambang ekonomi merupakan batas kerusakan oleh hama yang digunakan sebagai dasar untuk penngunaan pestisida. Jika pengendalian dilakukan di atas ambang ekonomi populasi hama maka dapat mengakibatkan kerugian karena nilai yang dikeluarkan lebih besar. Oleh karena itu pengendalian perlu dilakukan pada saat populasi hama telah mencapai ambang ekonomi sehingga pada kondisi tersebut nilai kerusakan oleh hama sama dengan biaya pengendalian. Pengendalian hama terpadu (PHT) lebih banyak menggunakan musuh dan juga agensia hayati.

Baca Juga :